Ini Alasan Hilirisasi Jadi Isu Terpanas Selama Debat Capres 2024

lintasra | 21 March 2024, 13:51 pm | 12 views

Isu yang kerap dibahas dalam panggung debat calon presiden 2024 terkait dengan hilirisasi sebagai langkah ambisius yang telah mengubah paradigma ekonomi dan kekayaan alam Indonesia.

Dalam persaingan ketat menuju kursi presiden, setiap pasangan calon bersaing memaparkan pandangan mereka mengenai program hilirisasi, yang tidak hanya menjadi jargon politik, tetapi juga titik sentral dalam perubahan dinamika ekonomi bangsa.

Baca:
Bahlil Sebut Sosok Ini Mau Jual Negara, Sindir Tom Lembong?
Debat memanas ketika calon-calon mempertanyakan hilirisasi yang dipandang terlalu ‘ugal-ugalan’, sementara sebagian mendukung penuh langkah ini sebagai kunci utama untuk meraih kemajuan ekonomi.

Di tengah kontroversi, harga nikel dunia dan peran Indonesia sebagai pemain utama dalam pasokan global menjadi sorotan. Bagaimana hilirisasi dapat memberikan nilai tambah industri nikel dan strategi setiap paslon dalam mengelolanya – menjadikan isu ini sebagai topik hangat dalam perjalanan menuju pemilihan presiden yang sangat dinanti.

Ambisi Hilirisasi Jokowi

Presiden Joko Widodo (Jokowi) kembali menegaskan pentingnya hilirisasi dalam mengoptimalkan potensi kekayaan alam Indonesia. Meskipun mendapat kritik dari negara-negara seperti Uni Eropa, Amerika Serikat, dan IMF, Jokowi tetap yakin bahwa hilirisasi merupakan jendela peluang bagi Indonesia untuk meraih kemajuan.

Pernyataan ini disampaikan dalam Pidato Kenegaraan pada 16 Agustus 2023, di mana Jokowi menggarisbawahi kekayaan sumber daya alam Indonesia, termasuk bahan mineral, perkebunan, kelautan, dan energi baru terbarukan.

Dalam upayanya mendorong hilirisasi, Jokowi menekankan bahwa fokusnya tidak hanya pada komoditas mineral, tetapi juga non-mineral seperti kelapa, rumput laut, dan produk potensial lainnya. Namun, dia mengakui bahwa hilirisasi merupakan proyek jangka panjang, yang dalam jangka pendek dapat merugikan beberapa pihak, terutama eksportir (komoditas mentah}.

Dampak Positif Hilirisasi: Pertumbuhan Investasi dan Peningkatan Lapangan Kerja

Meski menuai kritik tajam, hilirisasi nikel di Indonesia menunjukkan dampak positif yang signifikan. Setelah penghentian ekspor nikel ore pada 2020, investasi hilirisasi nikel tumbuh pesat dengan hadirnya 43 pabrik pengolahan nikel. Hal ini membuka peluang besar dalam menciptakan lapangan kerja dan memberikan nilai tambah pada komoditas.

Dalam konteks harga nikel dunia, terjadi penurunan signifikan hingga mencapai level terendah sejak April 2021. Pada 2 Februari 2024, harga nikel dunia kontrak tiga bulan tercatat sebesar US$ 16.196 per ton. Turunnya harga ini sebagian besar diatributkan pada pasokan nikel berlebih dari Indonesia, yang dianggap “kebanjiran.”

Namun, perlu ditegaskan bahwa penurunan harga ini bukan semata-mata disebabkan oleh oversupply, seperti yang diungkapkan oleh Deputi Bidang Koordinasi Investasi dan Pertambangan Kemenko Marves, Septian Hario Seto.

Menurut Seto, data ekspor Indonesia menunjukkan bahwa nilai ekspor produk turunan nikel tetap meningkat, meskipun harga nikel turun. Pendapatan dari ekspor produk turunan nikel pada Januari-November 2023 mencapai US$ 31,3 miliar, naik 0,6% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.

Hilirisasi Nikel dan Strategi Nasional Indonesia

Hilirisasi nikel menjadi salah satu Proyek Strategis Nasional (PSN) di era pemerintahan Joko Widodo. Kementerian Koordinator Maritim dan Investasi, di bawah Menko Luhut Binsar Pandjaitan, terus mempercepat percepatan PSN ini, khususnya melalui pembangunan smelter nikel di Sulawesi.

Sulawesi kini menjadi episentrum nikel di Indonesia, dengan potensi sumber daya bijih nikel yang mencapai 11.887 juta ton dan cadangan bijih sebesar 4.346 juta ton. Berdasarkan pemetaan Badan Geologi, wilayah Sulawesi Tenggara, Sulawesi Tengah, dan Maluku Utara memiliki potensi terbesar. Upaya PSN ini diharapkan dapat menciptakan lapangan kerja, mengurangi impor, dan mengurangi defisit neraca perdagangan Indonesia.

Wilayah tersebut menjadi pusat perhatian dengan gencarnya pengembangan dalam PSN di kawasan tersebut. Pengembangan tersebut diantaranya yaitu, pembangunan Kawasan Industri Indonesia Konawe Industrial Park (IKIP) di Sulawesi Tenggara, pengembangan Kawasan Ekonomi Khusus di Sulawesi Tenggara, proyek Pengembangan Smelter Terintegrasi PT Vale Indonesia di Bahodopi di Sulawesi Tengah, proyek Pengembangan Smelter Terintegrasi PT Vale Indonesia di Pomala di Sulawesi Tenggara, dan smelter Nikel Baterai Listrik di Halmahera Timur, Maluku Utara.

Meskipun dihadapkan pada penurunan harga nikel dunia dan kritik terkait oversupply, hilirisasi nikel di Indonesia tetap menjadi fokus utama pemerintah dalam mengoptimalkan potensi sumber daya alam. Proyek ini, yang menjadi bagian dari Proyek Strategis Nasional, diharapkan dapat memberikan dampak positif dalam bentuk pertumbuhan investasi, peningkatan lapangan kerja, dan peningkatan nilai tambah komoditas.

sumber: https://www.cnbcindonesia.com/research/20240205072203-128-511815/ini-alasan-hilirisasi-jadi-isu-terpanas-selama-debat-capres-2024

Berita Terkait